Kematian Yang Indah Sang Maestro Aerobik

Oleh: Tjahjo Sasongko

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski telah menorehkan nama di mana-mana, keinginan Suprayitno cuma satu, pulang ke rumah menemui ibu dan keluarganya.

Suprayitno Rubio adalah nama asli Jinoth Rubio atau “Jinoth Aerobik”, salah seorang instruktur aerobik papan atas Indonesia. Jinoth meninggal dunia pada Selasa (28/6/2016) dini hari setelah menderita kanker pencernaan yg yaitu penyebaran kanker kelenjar getah bening yg pernah dideritanya selama dua tahun.

Sebagai seorang instruktur aerobik ataupun macam senam lainnya, Jinoth termasuk mumpuni. Ia pernah bekerja sama dengan “Ratu Aerobik”, Vicky Burki, dan menjadi personal trainer dua artis ternama, seperti Kris Dayanti dan Nicky Astria. Bagi instruktur senam muda, sosok Jinoth dianggap sebagai guru tempat bertanya tentang pengalaman ataupun teknik yg baru.

Namun, seluruh itu tidak kelihatan setiap kali Jinoth pulang ke rumah gadang tempat ibunya dan dua saudara kandungnya tinggal.  Sosoknya jauh dari glamor dan mampu dengan gampang bergaul dengan ordinary people yg berprofesi pegawai kantoran atau dokter yg menjadi tetangganya.

Ketika pertama kali mengenalnya ketika aku menjadi penghuni kompleks, aku cuma mengenalnya sebagai guru senam. Terlebih lagi, ini memang diperlihatkannya dengan sosok tubuh yg atletis dan berotot. Baru setelah berjalan waktu, aku lebih “mengenal” sosok Jinoth dan eksistensinya di dunia luar. Luar kompleks, maksudnya.

Namun, Jinoth memang memisahkan sama sekali kehidupan keluarga dan glamornya kehidupan di dunia kerjanya. Karena itu, kalian juga enggan bagi memintanya menyumbangkan sedikit kepiawaiannya buat warga kompleks. Sampai datang kejadian pada malam itu.

Ketika itu, aku dan dua bapak-bapak warga kompleks tengah menyiapkan acara merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus. Secara tradisi, warga RT kalian memang merayakan acara 17 Agustus-an secara kecil-kecilan dan tradisional, seperti lomba dan acara ramah-tamah. Tak ada yg istimewa.

Tiba-tiba, Jinoth mengatakan pesan bahwa dia bersedia menjadi instruktur acara senam dan aerobik bersama bagi merayakan 17 Agustus bagi lingkungan kompleks. Syaratnya, ia cuma minta disediakan panggung yg lumayan besar. Cari di mana panggung besar pada ketika telah pukul 08.00 (20.00) malam?

Akhirnya, setelah cari sana-sini, panggung instruktur didapat dari pihak RW dan harus dibawa secara digotong 5-6 orang dengan jarak sekitar 500 meter. Belum cukup penderitaan,  panggung juga harus diatur menghadap  ruang yg cukup kosong yg mulai digunakan oleh peserta senam bersama. Kesulitan ini membuat sebagian dari kalian menggumam, “Memangnya berapa banyak sih yg mau ikut?”

Akhirnya, acara berjalan lancar. Jinoth kita dengar sukses memimpin senam bersama dengan peserta membeludak, diiikuti bukan cuma warga RT kami, melainkan juga dari RT lainnya. Karena baru selesai kerja pada pukul 04.00, kita sendiri tidak ikut dalam keriaan karena tertidur sampai siang dan cuma mendengar cerita riuhnya para peserta senam bersama itu.

Namun, dari situ, kalian tahu itulah cara Jinoth buat mengembalikan rasa terima kasihnya kepada lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini, ketika ia menjalani proses penyembuhan penyakit kanker kelenjar getah bening yg dideritanya, Jinoth mengajak warga bagi menjalani pola hidup sehat. Ia memimpin senam bersama setiap Minggu pagi. Tempatnya pun sederhana, di sebuah panggung semen dengan para peserta melakukan senam di jalan lingkungan. Jadilah setiap Minggu pagi kalian menikmati teriakan Jinoth, “Ayo… lagi… lagi…”

“Kegiatan sosial” ini makin menjadi setelah ia dinyatakan sembuh dari penyakit kanker kelenjar getah bening setelah menjalani proses kemoterapi selama dua waktu. Bahkan, ia menawarkan para warga bagi ikut dalam latihan yoga secara privat di rumahnya dengan harga tetangga tentunya.

FACEBOOK Jinoth (kiri) bersama para instruktur aerobik ternama lainnya

Saya kemudian kehilangan suara teriakan Jinoth karena aku harus menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa minggu karena mengalami kecelakaan kerja. Ketika pulang pun, suara teriakan itu tidak lagi terdengar karena Jinoth semakin sibuk mejadi instruktur kegiatan di luar. Namun, yg kemudian aku dengar, Jinoth harus masuk Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) karena mengalami penurunan keadaan karena sel kankernya diketahui muncul kembali.

Selasa (29/06/2016) dini hari, aku telah tertidur ketika mendapat pemberitahuan bahwa Jinoth sudah kembali ke Penciptanya. Membayangkan dirinya masih di rumah sakit dan keadaan tubuh aku yg masih bergantung kepada kursi roda, aku menetapkan tak bergabung dengan warga kompleks buat menolong keluarga yg tengah berduka.

Baru pagi harinya, aku mengetahui ternyata Jinoth berpulang di rumah dan di antara keluarga besarnya. Beberapa hari sebelumnya, ia meminta pulang dari rumah sakit bagi berada di antara keluarga besarnya. Ibunya yg tercinta sendiri sudah berpulang pada 2009 lalu.

Yang aku dengar dari para pelayat adalah tentang indahnya saat-saat kematian menjemput sahabat kalian tersebut. Jinoth menolak saat mulai dibawa kembali ke rumah sakit buat pemeriksaan dokter. Sekitar pukul 23.00, Jinoth disebut meminta keluarganya berkumpul. “Saya mau pulang. Sekarang telah saatnya. Itu mama telah tiba menjemput saya, dia sekarang duduk menunggu di kursi itu.”

Satu jam kemudian, Jinoth menyusul ibunya…

Sumber: http://olahraga.kompas.com



Kematian Yang Indah Sang Maestro Aerobik | admin | 4.5